CONTOH TULISAN OPINI

Squid Game 1 vs 2: Perdebatan Kreativitas dan Eksploitasi Popularitas



Oleh: Yustina Sherly Paramesti

Squid Game, serial drama asal Korea yang sempat mencuri perhatian dunia pada 2021, telah menjadi fenomena global dengan jumlah penonton yang luar biasa. Dengan kisah tentang kelompok orang yang berjuang dalam permainan mematikan demi hadiah uang besar, season pertama sukses meraih popularitas dengan konsep yang unik dan pesan sosial yang tajam. 

Namun, setelah kesuksesannya, banyak yang merasa bahwa season kedua, yang baru saja dirilis, menghadirkan perdebatan serius tentang kreativitas dan eksploitasi popularitas.


Kreativitas di Balik Season Pertama


Pada season pertama, Squid Game berhasil memikat penonton dengan premis yang segar dan penuh ketegangan. Mengangkat tema ketidaksetaraan sosial, kemiskinan, dan korupsi, serial ini mengajak penonton untuk berpikir lebih dalam tentang sistem yang tak adil dalam masyarakat. Karakter-karakternya yang kompleks, terutama Gi-hun (diperankan oleh Lee Jung-jae), menjadi simbol perjuangan individu dalam menghadapi sistem yang menindas. Ditambah dengan konsep permainan anak-anak yang dibalut dengan kekerasan, Squid Game menghadirkan ketegangan yang tak terduga, membuatnya sangat menarik.


Eksploitasi Popularitas di Season Kedua?

Namun, dengan kesuksesan besar yang didapat, season kedua malah memunculkan kritik yang cukup tajam. Beberapa pihak merasa bahwa serial ini lebih banyak berfokus pada cara untuk mempertahankan popularitas daripada mengembangkan cerita yang sama kuatnya dengan musim pertama. Ketika Squid Game pertama kali muncul, ceritanya terasa orisinal dan inovatif, namun season kedua terasa seperti upaya untuk mengeksploitasi tren dan kesuksesan yang ada.

Sebagian besar penonton merasa bahwa elemen kejutan dan kedalaman karakter yang ada di season pertama mulai hilang. Meskipun tetap mempertahankan tema tentang ketidaksetaraan dan kekerasan sistemik, banyak yang berpendapat bahwa elemen-elemen ini kini hanya sekadar pelengkap untuk memuaskan hasrat penonton akan lebih banyak darah dan ketegangan. Bahkan, beberapa kritik menyebutkan bahwa cerita season kedua terkesan terlalu dipaksakan, berfokus pada elemen-elemen aksi yang lebih besar dan menegangkan, tanpa menambah kedalaman pada karakter-karakter utama.


Perdebatan 

Perdebatan ini semakin relevan dengan tren yang berkembang di dunia hiburan. Dengan kesuksesan besar serial-serial Netflix lainnya yang telah mengikuti jejak Squid Game, seperti Money Heist dan Bridgerton, kini lebih banyak serial yang diproduksi dengan harapan bisa menjadi hit global. Namun, masalahnya adalah semakin banyak karya yang terjebak dalam formula kesuksesan tanpa mempertimbangkan orisinalitas dan kualitas narasi.

Squid Game sendiri telah berhasil mendominasi berbagai platform dan media. Meskipun demikian, dalam season kedua, pengaruh dari respons audiens dan upaya untuk menyesuaikan dengan ekspektasi pasar mungkin membuat cerita yang ada terasa lebih komersial. Hal ini mengarah pada kritik bahwa serial ini mulai lebih mengutamakan angka penonton daripada pengembangan cerita yang lebih mendalam.

Tentu saja, meski ada perdebatan tentang apakah musim kedua ini berhasil mempertahankan kreativitas atau justru jatuh ke dalam perangkap eksploitasi popularitas, Squid Game 2 masih tetap relevan. Musim kedua menyentuh tema-tema yang masih sangat berhubungan dengan keadaan sosial kita, seperti kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, dan ketamakan manusia. Meskipun tak sebrilian musim pertama, Squid Game tetap memberikan hiburan yang menggugah, meski terkadang terasa seperti sebuah proyek yang terlalu berfokus pada keberhasilan komersial.

Pada akhirnya, apakah Squid Game musim kedua berhasil atau tidak, mungkin kembali pada pandangan kita sebagai penonton. Apakah kita lebih menghargai kedalaman cerita dan karakter, atau hanya ingin hiburan yang memicu adrenalin? Yang pasti, perdebatan ini menunjukkan bagaimana industri hiburan sekarang sering kali terjebak dalam dilema antara kreativitas dan keuntungan.



Penulis:

Yustina Sherly Paramesti

223500010002

UAS MODERN MEDIA WRITING

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS MPU TANTULAR

Komentar